Sepatu belum dilepas. Pakaian seragam sekolahnyapun belum juga diganti. Tas dilempar di tempat tidurnya. Sigit langsung membantingkan dirinya sambil menggerutu dengan wajah cemberut. Emosinya meledak.
Itulah sebabnya, maka ibunya memasang telinga di muka pintu Sigit. lngin mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi pada anak tunggalnya itu.
“Prok! Prok!” suara di dalam kamar itu mengejutkan ibu Sigit.
“Ada apa sih, Git?” tanya ibu Sigit dari balik pintu kamar.
Tidak ada jawaban dari dalam kamar.
“Keluarlah nak…..!” pinta ibu Sigit halus.
Itupun tak dijawab oleh Sigit.
“Sebaiknya sepulang sekolah kamu cuci tangan dan makan dulu, Git…”
Tetap tidak ada sautan. Hal itu menyebabkan ibu Sigit geleng-geleng kepala dan akhirnya berlalu menuju dapur untuk menyiapkan makan siang.
Jam menunjukkan pukul lima sore ketika Sigit selesai mandi. Kini wajahnya tak secemberut siang tadi. Apa lagi tak lama kemudian Dullah
datang membawa buah duku.
Singgih tersenyum sendiri. Dia sedang membayangkan betapa senangnya memiliki uang yang jumlahnya puluhan ribu rupiah. Dan tiga hari lagi apa yang dibayangkannya itu pasti akan terwujud. Betapa tidak, tiga hari lagi setelah pembagian raport kenaikan kelas, tabungannya akan dibagikan oleh guru kelasnya. Bahkan semua temannyapun akan gembira seperti Singgih.
Konon berabad-abad yang silam, Dewa di Sorga mengumpulkan semua binatang yang ada di dunia ini.