Sejak mulai menyapu tadi wajah Iping nampak muram meskipun ketiga teman putrinya, Ami, Kutik, dan Surti bekerja dengan senang hati. Aris, seorang anggota kelompok piketnya belum juga nampak. Itulah yang menyebabkan hati Iping dongkol. Bahkan dia ingin segera melaporkannya ke wali kelas. Namun Gono, sang ketua kelas mencegahnya.
“Sabar dong, Ping …. Jangan keburu melaporkan,” kata Gono.
“Habis kau tak memperhatikan kemalasan Aris,” kata Iping mulai emosi. Wajahnya nampak memerah. “Seharusnya kau segera melaporkan Aris kalau pagi ini dia tidak piket!”
“Ya, ya, aku tahu maksudmu. Tapi jangan tergesa-gesa,” jawab Gono.
“Okelah. Kalau begitu aku tak usah kerja. Tak ada gunanya!” kata Iping sambil melempar sapunya.
Baca cerita ini selengkapnya »

Singgih tersenyum sendiri. Dia sedang membayangkan betapa senangnya memiliki uang yang jumlahnya puluhan ribu rupiah. Dan tiga hari lagi apa yang dibayangkannya itu pasti akan terwujud. Betapa tidak, tiga hari lagi setelah pembagian raport kenaikan kelas, tabungannya akan dibagikan oleh guru kelasnya. Bahkan semua temannyapun akan gembira seperti Singgih.
Konon berabad-abad yang silam, Dewa di Sorga mengumpulkan semua binatang yang ada di dunia ini.