<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita Anak</title>
	<atom:link href="http://www.cerita-anak.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.cerita-anak.com</link>
	<description>.:: Cerita Anak &#124; Cerita Rakyat &#124; Dongeng Anak ::.</description>
	<lastBuildDate>Fri, 24 Jun 2011 05:32:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Seperti Tumbuhan Padi</title>
		<link>http://www.cerita-anak.com/seperti-tumbuhan-padi.html</link>
		<comments>http://www.cerita-anak.com/seperti-tumbuhan-padi.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Mar 2011 08:40:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kakak Koko</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Iping]]></category>
		<category><![CDATA[Ketua Kelas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.cerita-anak.com/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[Sepatu belum dilepas. Pakaian seragam sekolahnyapun belum juga diganti. Tas dilempar di tempat tidurnya. Sigit langsung membantingkan dirinya sambil menggerutu dengan wajah cemberut. Emosinya meledak. Itulah sebabnya, maka ibunya memasang telinga di muka pintu Sigit. lngin mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi pada anak tunggalnya itu. &#8220;Prok! Prok!&#8221; suara di dalam kamar itu mengejutkan ibu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sepatu belum dilepas. Pakaian seragam sekolahnyapun belum juga diganti. Tas dilempar di tempat tidurnya. Sigit langsung membantingkan dirinya sambil menggerutu dengan wajah cemberut. Emosinya meledak.</p>
<p>Itulah sebabnya, maka ibunya memasang telinga di muka pintu Sigit. lngin mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi pada anak tunggalnya itu.</p>
<p>&#8220;Prok! Prok!&#8221; suara di dalam kamar itu mengejutkan ibu Sigit.</p>
<p>&#8220;Ada apa sih, Git?&#8221; tanya ibu Sigit dari balik pintu kamar.</p>
<p>Tidak ada jawaban dari dalam kamar.</p>
<p>&#8220;Keluarlah nak&#8230;..!&#8221; pinta ibu Sigit halus.</p>
<p>Itupun tak dijawab oleh Sigit.</p>
<p>&#8220;Sebaiknya sepulang sekolah kamu cuci tangan dan makan dulu, Git&#8230;&#8221;</p>
<p>Tetap tidak ada sautan. Hal itu menyebabkan ibu Sigit geleng-geleng kepala dan akhirnya berlalu menuju dapur untuk menyiapkan makan siang.</p>
<p>Jam menunjukkan pukul lima sore ketika Sigit selesai mandi. Kini wajahnya tak secemberut siang tadi. Apa lagi tak lama kemudian Dullah<br />
datang membawa buah duku.</p>
<p><span id="more-48"></span><br />
&#8220;Manis juga ya&#8230;.&#8221; ujar Sigit sambil mengunyah duku.</p>
<p>&#8220;Mau yang masam?&#8221; kelakar Dullah.</p>
<p>&#8220;Nggak, ah&#8230;.&#8221;</p>
<p>Ditengah-tengah keasyikan itu tiba-tiba ibu Sigit mendekatinya.</p>
<p>&#8220;Nah, hegitu dong, susah itu tak ada gunanya, bukan?&#8221; kata ibu Sigit.</p>
<p>&#8220;Benar nggak, Git! Dul&#8230;! Oya, sebenarnya ada kejadian apa sih, Dul, siang tadi? Sepulang sekolah Sigit mengunci kamar menggerutu tak ada habisnya.&#8221;</p>
<p>Dua anak itu berpandang-pandangan. Dullah berpikir¬pikir.</p>
<p>&#8220;Apa sih, Git?&#8221; bisik Dullah kepada Sigit.</p>
<p>&#8220;Ridwan! Murid baru tadi!&#8221; jawab Sigit berbisik pula. Dullah jadi ingat.</p>
<p>&#8220;Oya bu, di kelas kami ada seorang murid baru. Ridwan namanya. Dia berasal dari desa. Dia pendiam tak banyak omong. Penakut barangkali. Oleh karena itulah maka Iping selalu menyindirnya, mana anak udik! Anak tak becus dan sebagainya. Tetapi Ridwan tak marah sedikit pun. Namun di balik itu semua, dia cerdas sekali. Tadi ketika ulangan matematika dia mendapat nilai sepuluh. Bayangkan, bu! Padahal lainnya paling tinggi hanya mendapat tujuh. Termasuk Sigit yang biasanya mendapat nilai paling baik. Namun kali ini ada yang mengungguli.&#8221;</p>
<p>Sigit menunduk.</p>
<p>&#8220;Itukah yang menyebabkan siang tadi kau cemberut, Git?&#8221; desak ibu Sigit. &#8220;Itu keliru. Seharusnya teman baru yang lebih pandai harus bersyukur. Bahkan dapat kalian manfaatkan. Kalian harus banyak belajar dari dia, agar nilai-nilaimu nanti dapat lebih baik. Lebih dari itu ibu yakin dia mesti anak baik. Tidak sombong. Tidak suka menonjolkan kepandaiannya. Ibarat tumbuhan padi. Menunduk karena berisi. Nah, kalian harus meniru ilmu padi itu.&#8221;</p>
<p>Sigit dan Dullah saling berpandangan. Mereka mengerti maksud ibu Sigit.</p>
<p>&#8220;Baiklah, bu,&#8221; ucap Sigit tersendat.</p>
<p>&#8220;Kapan-kapan kita belajar bersama ke rumahnya,&#8221; sambung Dullah. &#8220;Karena memang ujian sudah dekat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tentu!&#8221; jawab Sigit.***</p>
<h4>Tags</h4>|<a href="http://www.cerita-anak.com/seperti-tumbuhan-padi.html" title="DONGENG TUMBUHAN">DONGENG TUMBUHAN</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/seperti-tumbuhan-padi.html" title="cerita tumbuhan">cerita tumbuhan</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/seperti-tumbuhan-padi.html" title="cerita tentang tumbuhan">cerita tentang tumbuhan</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/seperti-tumbuhan-padi.html" title="dongeng tentang tumbuhan">dongeng tentang tumbuhan</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/seperti-tumbuhan-padi.html" title="tumbuhan padi">tumbuhan padi</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/seperti-tumbuhan-padi.html" title="cerita anak tentang tumbuhan">cerita anak tentang tumbuhan</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/seperti-tumbuhan-padi.html" title="kartun buah">kartun buah</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/seperti-tumbuhan-padi.html" title="cerita anak tentang tanaman">cerita anak tentang tanaman</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/seperti-tumbuhan-padi.html" title="kartun laut">kartun laut</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/seperti-tumbuhan-padi.html" title="cerita tentang tanaman">cerita tentang tanaman</a>|]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.cerita-anak.com/seperti-tumbuhan-padi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Piket</title>
		<link>http://www.cerita-anak.com/piket.html</link>
		<comments>http://www.cerita-anak.com/piket.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 04:10:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kakak Koko</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Iping]]></category>
		<category><![CDATA[Ketua Kelas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.cerita-anak.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[Sejak mulai menyapu tadi wajah Iping nampak muram meskipun ketiga teman putrinya, Ami, Kutik, dan Surti bekerja dengan senang hati. Aris, seorang anggota kelompok piketnya belum juga nampak. Itulah yang menyebabkan hati Iping dongkol. Bahkan dia ingin segera melaporkannya ke wali kelas. Namun Gono, sang ketua kelas mencegahnya. &#8220;Sabar dong, Ping &#8230;. Jangan keburu melaporkan,&#8221; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak mulai menyapu tadi wajah Iping nampak muram meskipun ketiga teman putrinya, Ami, Kutik, dan Surti bekerja dengan senang hati. Aris, seorang anggota kelompok piketnya belum juga nampak. Itulah yang menyebabkan hati Iping dongkol. Bahkan dia ingin segera melaporkannya ke wali kelas. Namun Gono, sang ketua kelas mencegahnya.</p>
<p>&#8220;Sabar dong, Ping &#8230;. Jangan keburu melaporkan,&#8221; kata Gono.</p>
<p>&#8220;Habis kau tak memperhatikan kemalasan Aris,&#8221; kata Iping mulai emosi. Wajahnya nampak memerah. &#8220;Seharusnya kau segera melaporkan Aris kalau pagi ini dia tidak piket!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, ya, aku tahu maksudmu. Tapi jangan tergesa-gesa,&#8221; jawab Gono.</p>
<p>&#8220;Okelah. Kalau begitu aku tak usah kerja. Tak ada gunanya!&#8221; kata Iping sambil melempar sapunya.</p>
<p><span id="more-46"></span></p>
<p>Gono diam, memperhatikan ulah Iping yang semakin tak puas kepada sikap ketua kelasnya itu.</p>
<p>&#8220;Kalian terlalu rajin,&#8221; ujar Iping sinis mendekati Ami dan teman-temannya.</p>
<p>&#8220;Memangnya kenapa sih,&#8221; Ami heran.</p>
<p>&#8220;Enak benar kau ini, Ping. Tak mau menyapu,&#8221; Kutik pun heran. Begitu juga Surti yang juga keheranan melihat ulah Iping.</p>
<p> &#8220;Teruskan kerja kalian, kalau tak mau kulaporkan kepada wali kelas,&#8221; suruh Gono tertuju kepada tiga anak puteri itu.</p>
<p>&#8220;Jangan mau!&#8221; potong Iping. &#8220;Kita kerja keras sementara Aris hanya enak-enak sampai sesiang ini belum datang. Lagi pula tidak ada sangsi. Enak benar dia, mana keadilan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jangan sembarangan ngomong!&#8221; bentak Gono tertuju kepada Iping. &#8220;Kau kira aku tak mau melaporkan siapa yang tak mau piket? Coba dengarkan! Aku akan melaporkan kepada wall kelas siapa saja yang melanggar tata tertib sekolah, jika sudah ada buktinya. Kau bisa membuktikan kemalasan Aris?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ha&#8230; ha &#8230;. ha&#8230;.,&#8221; Iping tertawa sinis. &#8220;Pagi ini Aris tak nampak. Apalagi piket. Bukankah kalau ini semua bukti kemalasannya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah. Nanti dia akan kutanya apa alasannya terlambat. Jika tak punya alasan, baru kulaporkan,&#8221; Gono menjelaskan kebijaksanaan yang diambilnya. &#8220;Sekarang teruskan kerja kalian. Selesaikan sebelum bel masuk berbunyi.&#8221;</p>
<p>Hati Iping memang agak lega. Tapi dia tetap masih dongkol jika ingat Aris.</p>
<p>Sedangkan Gono mempunyai perkiraan bahwa kalau tak ada sesuatu yang terjadi, Aris pasti sudah tiba di sekolah. Dia mengerti akan sikap Aris sehari-harinya. Aris termasuk anak rajin. Tidak suka jika terjadi perselisihan dengan siapa pun, dia akan mengalah demi persahabatan.</p>
<p>Tepat pada waktu akan pelajaran keempat, Penjaga sekolah datang mengetuk pintu kelas. Sepucuk surat beramplop putih diserahkan kepada wali kelas. Surat itu dibuka lalu dibacanya dalam hati. Tiba-tiba kening bapak wali kelas berkerut seolah ada berita yang tak menggembirakan.</p>
<p>&#8220;Anak-anak, katanya kemudian. &#8220;Hari ini seorang temanmu mendapatkan musibah. Aris terserempet kendaraan ketika akan berangkat sekolah. Sekarang dia dirawat di rumah sakit. Menurut berita surat ini dia belum sadarkan diri. Baiklah kita doakan semoga segera sembuh.&#8221;</p>
<p>Mendengar berita itu seisi kelas tercengang. Suasana kelas jadi hening. Hanya disana-sini terdengar bisik-bisik. Semua membicarakan kecelakaan yang menimpa Aris. Tak terkecuali Iping. Wajahnya jadi cemas dan kecewa memandangi Gono.</p>
<p>&#8220;Untuk itu, nanti kita bisa menjenguknya bersama-sama dengan kepala sekolah,&#8221; ujar Bapak Wali kelas</p>
<p>Kemudian pelajaranpun dimulai lagi meskipun keadaan kelas tidak tenang. ***</p>
<h4>Tags</h4>|<a href="http://www.cerita-anak.com/piket.html" title="cerita piket kelas">cerita piket kelas</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/piket.html" title="cerit tentang piket kelas">cerit tentang piket kelas</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/piket.html" title="cerita tentang piket">cerita tentang piket</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/piket.html" title="desain piket kelas">desain piket kelas</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/piket.html" title="kumpulan cerita anak menggembirakan">kumpulan cerita anak menggembirakan</a>|]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.cerita-anak.com/piket.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Chin Chin Kobakama0</title>
		<link>http://www.cerita-anak.com/chin-chin-kobakama.html</link>
		<comments>http://www.cerita-anak.com/chin-chin-kobakama.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 03:07:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kakak Koko</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Dongeng Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.cerita-anak.com/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[Cerita Rakyat Jepang Ribuan tahun silam, di negeri Jepang, hiduplah seorang wanita cantik nan rupawan. Karena dia istri seorang pedagang besar, maka banyaklah pembantu-pembantunya. Hal itu menyebabkan dirinya sangat malas. Tidak suka bekerja, bahkan kerja ringanpun tidak. Pada suatu malam, saat sang suami meninggalkannya untuk mengurus dagangan di luar kota, wanita itu terjaga dari tidurnya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Cerita Rakyat Jepang</em></p>
<p>Ribuan tahun silam, di negeri Jepang, hiduplah seorang wanita cantik nan rupawan. Karena dia istri seorang pedagang besar, maka banyaklah pembantu-pembantunya. Hal itu menyebabkan dirinya sangat malas. Tidak suka bekerja, bahkan kerja ringanpun tidak.</p>
<p>Pada suatu malam, saat sang suami meninggalkannya untuk mengurus dagangan di luar kota, wanita itu terjaga dari tidurnya. Dia terkejut melihat manusia-manusia kerdil bernyanyi dan menari memenuhi tempat tidurnya. Pakaian yang dipakai manusia-manusia kerdil itu sama dengan apa yang dipakai oleh suaminya jika sedang berada di rumah. Masing-masing dari mereka membawa sebilah pedang sepanjang lima sentimeter. Mereka terus bernyanyi dan menari dengan riangnya, &#8221; Kami chin-chin kobakama, kami chin-chin kobakama, malam sudah larut. Tidurlah tuan putri tercinta.&#8221;</p>
<p><span id="more-43"></span></p>
<p>Wanita cantik itu tak bisa berteriak karena takutnya. Sementara manusia-manusia kerdil itu tetap bersuka ria menggodanya. Meskipun dengan hati yang sangat takut, dia mencoba menangkap mereka, namun manusia-manusia kerdil itu dapat menghindar dengan lincahnya. Mereka gesit. Sehingga wanita itu kesal dibuatnya. Dan sampai menjelang pagi dia baru bisa tidur, karena manusia-manusia kerdil itu baru pergi.</p>
<p>Ketika suaminya datang dia ingin menceritakan peristiwa itu. Tapi ragu-ragu. Dan akhirnya diurungkannya maksud itu, karena dia takut suaminya akan mentertawakannya.</p>
<p>Malam-malam berikutnya jika suaminya tak berada di rumah kejadian itu berulang-ulang terjadi. Hal itu menyebabkan wanita itu beberapa malam tidak bisa tidur. Hal ini tentu saja menyebabkan dia. jatuh sakit.</p>
<p>Hati suaminya sedih melihat sakit yang diderita istrinya. Badannya semakin kurus dan kurus.</p>
<p>&#8220;Apakah sebenarnya yang kau rasakan, hai istriku? &#8221; tanya suaminya sedih.</p>
<p>&#8220;Beberapa malam bila kau pergi aku tak bisa tidur,&#8221; jawab istrinya dengan lemah.</p>
<p>&#8220;Kenapa?&#8221;</p>
<p>Semula wanita itu enggan menceritakan sebab musabab dia sakit tak bisa tidur. Tapi akhirnya diceritakanlah apa yang dialaminya beberapa malam ini. Suaminya tidak marah. Tidak pula mentertawakannya. Bahkan bertekad ingin memburu manusia-manusia kerdil yang telah mengganggu istrinya tiap malam.</p>
<p>&#8220;Kau takut sekali?&#8221; tanya suaminya.</p>
<p>&#8220;Ya,&#8221; jawab istrinya malu-malu. &#8220;Pukul berapa mereka datang?&#8221; &#8220;Menjelang tengah malam hingga<br />
hampir pagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau tak memanggil pembantu kita?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak. Aku takut dia akan menertawakanku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah, aku akan menangkapnya. Mulai sekarang jangan takut.&#8221;</p>
<p>Tibalah malam yang ditunggu oleh pedagang kaya itu. Tak lama kemudian terdengar suara nyanyian mereka. &#8220;Chin-chin kobakama, chin-chin kobakama&#8230; &#8220;Mereka terus bernyanyi dan menari. Semua kejadian itu bisa disaksikan oleh pedagang dari lubang kunci kamar. Tertawalah pedagang itu melihatnya. Cepat dibukanya pintu kamar itu. Masuklah sang suami dan menghalau manusia-manusia kerdil itu dengan sebilah pedangnya. Merekapun seketika lenyap tak tampak seorang pun. Tinggal pedang-pedang mereka yang berserakan diatas tempat tidur, yang tak lain adalah tusuk-tusuk gigi yang kotor dan menjijikkan. Tusuk-tusuk gigi itu adalah sisa pakai sang wanita yang tak pernah dibersihkannya.  Sedangkan manusia-manusia kerdil itu adalah hantu-hantu yang tak suka kotor. ***</p>
<h4>Tags</h4>|<a href="http://www.cerita-anak.com/chin-chin-kobakama.html" title="cerita putri malu">cerita putri malu</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/chin-chin-kobakama.html" title="cerita dongeng putri malu">cerita dongeng putri malu</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/chin-chin-kobakama.html" title="legenda putri malu">legenda putri malu</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/chin-chin-kobakama.html" title="cerita rakyat putri malu">cerita rakyat putri malu</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/chin-chin-kobakama.html" title="asal usul putri malu">asal usul putri malu</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/chin-chin-kobakama.html" title="cerita anak putri malu">cerita anak putri malu</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/chin-chin-kobakama.html" title="asal mula putri malu">asal mula putri malu</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/chin-chin-kobakama.html" title="cerita tentang putri malu">cerita tentang putri malu</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/chin-chin-kobakama.html" title="kisah putri malu">kisah putri malu</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/chin-chin-kobakama.html" title="cerita asal mula putri malu">cerita asal mula putri malu</a>|]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.cerita-anak.com/chin-chin-kobakama.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asal Usul Kali Gajah Wong</title>
		<link>http://www.cerita-anak.com/asal-usul-kali-gajah-wong.html</link>
		<comments>http://www.cerita-anak.com/asal-usul-kali-gajah-wong.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 02:56:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kakak Koko</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Dongeng Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Gajah Uwong]]></category>
		<category><![CDATA[Gajah Wong]]></category>
		<category><![CDATA[Kotagede]]></category>
		<category><![CDATA[Mataram]]></category>
		<category><![CDATA[Pleret]]></category>
		<category><![CDATA[Sultan Agung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.cerita-anak.com/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[Konon menurut cerita yang dimitoskan oleh masyarakat Yogyakarta Selatan, terjadilah suatu peristiwa yang sangat menakjubkan. Yakni terjadinya sungai Gajah Wong pada zaman kerajaan Mataram yang diperintah oleh Raja Sultan Agung. Kali Gajah Wong adalah sebuah kali yang terletak ditengah-tengah kota kecamatan Kotagede. Panjang kali ini tak lebih dari 20 kilometer. Pada abad ketujuhbelas, kali ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Konon menurut cerita yang dimitoskan oleh masyarakat Yogyakarta Selatan, terjadilah suatu peristiwa yang sangat menakjubkan. Yakni terjadinya sungai Gajah Wong pada zaman kerajaan Mataram yang diperintah oleh Raja Sultan Agung.</p>
<p>Kali Gajah Wong adalah sebuah kali yang terletak ditengah-tengah kota kecamatan Kotagede. Panjang kali ini tak lebih dari 20 kilometer.</p>
<p>Pada abad ketujuhbelas, kali ini merupakan kali yang kecil. Masyarakat di situ menyebutnya sebuah kalen, yang artinya kali kecil. Dan kebetulan airnyapun hanya gemercik mengalir sedikit sekali.</p>
<p>Pada suatu hari Sultan memanggil seorang Pawang Gajah.</p>
<p>&#8220;Pawang, cobalah kau mandikan gajah itu hingga bersih&#8221;.</p>
<p>&#8220;Oh&#8230;. hamba akan kerjakan kehendak Gusti Sultan,&#8221; jawab Pawang.</p>
<p>&#8220;Di kali sana, yang airnya bening sekali,&#8221; sabda Sultan lagi.</p>
<p>&#8220;Demi Sultan, akan segera kukerjakan perintah ini&#8221;.</p>
<p><span id="more-40"></span></p>
<p>Tetapi mana mungkin, kali ini sangat sedikit airnya. Tak dapat untuk memandikan gajah yang besar itu. Pawang termenung sejenak sebelum turun ke kali kecil itu. Tetapi apalah daya, tak mungkin Pawang ini menolak kehendak Gusti Sultan. Dan dia segera turun ke kali bersama gajahnya. Air kali itu hanya dapat membasahi kuku gajah dan tumit Pawang. Dengan segala cara Pawang tak berhasil memandikan gajahnya, karena air yang gemercik tak cukup untuk mengguyur seluruh tubuh gajah. Pawang mulai panik. Mulai risau. Takut akan mendapat amarah dari Sultan. Dia segera memutuskan untuk pulang, untuk menghadap Gusti Sultan. Dia berharap, kiranya Gusti Sultan tak akan marah.</p>
<p>&#8220;Ampun beribu ampun Gusti Sultan, hamba telah bardosa tidak dapat menunaikan perintah Gusti Sultan. Hukumlah hamba ini atas kesalahan hamba. Hamba tak dapat memandikan gajah dengan bersih. Karena air kali cuma sedikit sekali. Dan rasanya tidak mungkin hamba dapat memandikannya,&#8221; hatur Pawang dengan gemetar.</p>
<p>&#8220;Tidak, aku tidak akan menghukummu Pawang, sebelum kau mencoba dengan sebaik-baiknya. Cobalah sekali lagi kau bawa ke kali, gajah yang kau mandikan tadi. Kalau dengan sabar, aku yakin, pasti kau akan dapat melakukannya dengan baik. Pergilah sekarang juga.&#8221;</p>
<p>Tanpa membantah Pawang segera pergi ke kali dengan gajahnya. Melihat air kali yang semakin sedikit itu, Pawang semakin gelisah. Kemudian dia bersama gajahnya menuruni kali.</p>
<p>Dia memutar otaknya, bagaimana cara yang paling baik agar gajah dapat dimandikan.</p>
<p>&#8220;O, sungai membuatku celaka ! Airnya tak cukup untuk mengguyurku. Apalagi untuk memandikan gajah,&#8221; katanya sendirian sambil mengusap tubuh gajah dengan air itu.</p>
<p>&#8220;Hentikan saja airmu ini wahai kali, daripada engkau membuatku celaka. Keringlah kau air, daripada menambah sedihku. Habislah kau air  !&#8221; kata Pawang dengan geram.</p>
<p>Tiba-tiba saja air kali kecil itu mendadak banjir. Banjir besar sampai melanda daerah sekeliling kali itu. Pawang tidak dapat menguasai diri. Air kali itu menghanyutkan Pawang dan gajahnya.</p>
<p>Pada 	akhirnya Gusti Sultanpun mendengar berita tentang Banjir itu. Gusti Sultan sangat terkejut mendengarnya. Dan untuk kenang-kenangan, kali itu disebut kali &#8216;Gajah Wong&#8221;, karena kali telah menghanyutkan gajah dan orang (Pawang).</p>
<p>Sampai kinipun di desa Wonokromo Kecamatan Pleret masih terdapat bukit kecil, yang letaknya di pinggir kali Gajah Wong, yang dimitoskan warga, bahwa bukit itu adalah makam seorang Pawang dan gajahnya. ***</p>
<h4>Tags</h4>|<a href="http://www.cerita-anak.com/asal-usul-kali-gajah-wong.html" title="kali gajah wong">kali gajah wong</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/asal-usul-kali-gajah-wong.html" title="cerita rakyat kali gajah wong">cerita rakyat kali gajah wong</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/asal-usul-kali-gajah-wong.html" title="cerita kali gajah wong">cerita kali gajah wong</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/asal-usul-kali-gajah-wong.html" title="legenda kali gajah wong">legenda kali gajah wong</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/asal-usul-kali-gajah-wong.html" title="asal mula kali gajah wong">asal mula kali gajah wong</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/asal-usul-kali-gajah-wong.html" title="sungai gajah wong">sungai gajah wong</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/asal-usul-kali-gajah-wong.html" title="legenda gajah wong">legenda gajah wong</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/asal-usul-kali-gajah-wong.html" title="asal usul kali gajah wong">asal usul kali gajah wong</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/asal-usul-kali-gajah-wong.html" title="asal usul kali bening">asal usul kali bening</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/asal-usul-kali-gajah-wong.html" title="asal usul kotagede">asal usul kotagede</a>|]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.cerita-anak.com/asal-usul-kali-gajah-wong.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tabungan</title>
		<link>http://www.cerita-anak.com/tabungan.html</link>
		<comments>http://www.cerita-anak.com/tabungan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 02:39:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kakak Koko</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.cerita-anak.com/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Singgih tersenyum sendiri. Dia sedang membayangkan betapa senangnya memiliki uang yang jumlahnya puluhan ribu rupiah. Dan tiga hari lagi apa yang dibayangkannya itu pasti akan terwujud. Betapa tidak, tiga hari lagi setelah pembagian raport kenaikan kelas, tabungannya akan dibagikan oleh guru kelasnya. Bahkan semua temannyapun akan gembira seperti Singgih. Tiga hari adalah waktu yang tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="/images/kartun/celengan.jpg" alt="Celengan" width="223" height="194" />Singgih tersenyum sendiri. Dia sedang membayangkan betapa senangnya memiliki uang yang jumlahnya puluhan ribu rupiah. Dan tiga hari lagi apa yang dibayangkannya itu pasti akan terwujud. Betapa tidak, tiga hari lagi setelah pembagian raport kenaikan kelas, tabungannya akan dibagikan oleh guru kelasnya. Bahkan semua temannyapun akan gembira seperti Singgih.</p>
<p>Tiga hari adalah waktu yang tak panjang. Namun baginya menunggu hari pembagian tabungan itu rasanya amat lama.</p>
<p>&#8220;Kapan kau membuka tabunganmu, Singgih?&#8221; tanya ibunya pagi itu ketika Singgih akan ke sekolah.</p>
<p><span id="more-38"></span></p>
<p>&#8220;Kalau tak ada perubahan nanti sehabis pembagian raport kenaikan kelas, Bu&#8230;,” jawab Singgih.</p>
<p>“Ada berapa sih tabungannya ?”</p>
<p>&#8220;Sekita empat puluh ribu rupiah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hati-hati membawa pulang uang sebanyak itu.”</p>
<p>&#8220;Baiklah, bu&#8230;&#8221;</p>
<p>Siang harinya, ketika Singgih pulang dari sekolah, dia tak sabar lagi untuk menemui ibunya untuk mengabarkan kalau dirinya naik ke kelas enam. Tapi rumahnya nampak sepi. Semua pintu dan jendela tertutup rapat. Kemanakah ibu, pikirnya gelisah. Kemudian Singgih memanggil ibunya keras-keras. Tapi tak ada sahutan sama sekali. Kemudian ia mencoba mencarinya dikebun belakang. Ibunya juga tak didapatkan.</p>
<p>Beberapa saat kemudian Pak Kardi seorang tetangganya dengan tergopoh-gopoh tiba di rumah Singgih.</p>
<p>&#8220;Sudah lama kau tiba di rumah ?&#8221; tanya Pak Kardi sambil mendekat dimana Singgih duduk.</p>
<p>&#8220;Belum lama,&#8221; jawab Singgih gelisah. &#8220;Pak Kardi tahu dimana ibu pergi ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ke dokter,&#8221; kata Pak Kardi mengejutkan Singgih.</p>
<p>&#8220;Ke dokter?  Kenapa dia ? Ada kecelakaan yang menimpanya ?&#8221; tanya Singgih bertubi-tubi.</p>
<p>&#8220;Cobalah tenang dulu,&#8221; Pak Kardi mencoba menenangkan hati Singgih. &#8220;Jam sepuluh tadi pagi ibumu mencuci piring dan. gelas. Tiba-tiba sebuah gelas terjatuh dan pecah berkepingkeping. Karena ibumu tak memperhatikan pecahan gelas, kakinya menginjak pecahan gelas tadi hingga luka sedalam dua sentimeter. Oleh karena itu, aku secepat mungkin mengantarnya ke dokter. Oleh dokter luka itu dijahit. Dan karena ibumu tak ada uang, aku disuruhnya menyusulmu kesekolah. Tapi di sekolah sudah sepi, tak ada seorangpun anak di sana.&#8221;</p>
<p>&#8220;Maksudnya mau memberi kabar kepada saya ?&#8221; Singgih menyela.</p>
<p>&#8220;Ya. Tapi yang pling penting, aku disuruh ibumu untuk memintakan uang tabunganmu untuk membayar biaya pengobatan itu.&#8221;</p>
<p>Singgih diam. Hatinya benar-benar sedih. Berat rasanya memberikan uang itu. Tapi apa boleh buat, demi kesehatan ibunya uang itu diserahkan kepada Pak Kardi.</p>
<p>Tak sampai dua minggu, ibu Singgih telah sehat kembali. Hal itu menjadikan hati mereka gembira. Namun demikian, hati Singgih sangat sedih ketika ingat uang tabungannya telah habis untuk membayar pengobatan ibunya.</p>
<p>&#8220;Singgih,&#8221; ibunya memanggil ketika Singgih sedang duduk melamun di muka pintu.</p>
<p>&#8220;Ya, Bu&#8230;,&#8221; jawabnya dan mendekat ke tempat ibunya.</p>
<p>&#8220;Duduklah,&#8221; ujar ibunya. &#8220;Kau memang anakku satu-satunya yang baik hati&#8230;Kau telah mengorbankan uangmu untuk pengobatan ibu. Ikhlas bukan?&#8221;</p>
<p>Singgih mengangguk lemah. Nampak sedih juga.</p>
<p>&#8220;Baiklah. Kalau begitu uang tabungan ibu yang ada dalam tiang bambu itu boleh kau ambil untuk keperluanmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ibu punya tabungan?&#8221; tanya Singgih.<br />
“Ibu menerima uang pensiun sejak ayahmu meninggal setahun yang lalu itu, ibu pasti menyisihkan sebagian uang itu untuk ditabung.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau begitu terima kasih, Bu&#8230;,&#8221; ucap Singgih terharu. ***</p>
<h4>Tags</h4>|<a href="http://www.cerita-anak.com/tabungan.html" title="cerita menabung">cerita menabung</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/tabungan.html" title="cerita anak tentang menabung">cerita anak tentang menabung</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/tabungan.html" title="cerita tentang menabung">cerita tentang menabung</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/tabungan.html" title="celengan uang">celengan uang</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/tabungan.html" title="kartun semua binatang">kartun semua binatang</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/tabungan.html" title="CERITA tabungan anak">CERITA tabungan anak</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/tabungan.html" title="dongeng tentangmanfaat menabung">dongeng tentangmanfaat menabung</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/tabungan.html" title="cerpen anak tabungan">cerpen anak tabungan</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/tabungan.html" title="dongeng anak tentang menabung">dongeng anak tentang menabung</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/tabungan.html" title="cerpen tentang tabungan">cerpen tentang tabungan</a>|]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.cerita-anak.com/tabungan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Harimau dan Kerbau</title>
		<link>http://www.cerita-anak.com/harimau-dan-kerbau.html</link>
		<comments>http://www.cerita-anak.com/harimau-dan-kerbau.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Feb 2010 04:42:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kakak Koko</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Dongeng Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.cerita-anak.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[Cerita Rakyat Lombok Dahulu kala, di suatu padang kering dan tandus hiduplah seekor kerbau kurus. Karena hampir tiap hari tak mendapatkan rumput, maka kerbau itu pergi ke padang yang lain. Sampailah dia ke padang dimana banyak rumputnya. Hatinya gembira melihat rumput hijau itu. &#8220;Nah, inilah makananku,&#8221; gumamnya sendiri dan tersenyum. Tapi tiba-tiba muncullah seekor harimau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Cerita Rakyat Lombok</em></p>
<p>Dahulu kala, di suatu padang kering dan tandus hiduplah seekor kerbau kurus. Karena hampir tiap hari tak mendapatkan rumput, maka kerbau itu pergi ke padang yang lain. Sampailah dia ke padang dimana banyak rumputnya. Hatinya gembira melihat rumput hijau itu.</p>
<p>&#8220;Nah, inilah makananku,&#8221; gumamnya sendiri dan tersenyum.</p>
<p>Tapi tiba-tiba muncullah seekor harimau besar menghadangnya. Lalu dia berkata, &#8220;O, tidak mudah kau ambil makan di sini kecuali sudah mendapat ijinku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau begitu ijinkanlah aku memakannya,&#8221; pinta kerbau.</p>
<p>&#8220;Silakan, asal kau mau memberikan sesuatu padaku,&#8221; jawab harimau. &#8220;Sebab setiap siapa datang kemari untuk makan rumput pasti berjanji akan memberikan sesuatu untukku. Bagaimana kalau kau besok memberikan hatimu kepadaku?&#8221;</p>
<p><span id="more-30"></span></p>
<p>Kerbau berpikir sejenak.</p>
<p>&#8220;Biarlah akan kuberikan padamu,&#8221; akhirnya kerbau berjanji akan memberikan hatinya kepada harimau.</p>
<p>Beberapa hari kemudian harimau menemui kerbau, tapi si kerbau sudah mengerti maksud kedatangan harimau.</p>
<p>&#8220;Bagaimana janjimu, kerbau?&#8221; tanya harimau,</p>
<p>&#8220;Kau terlalu cepat menagih janjimu,&#8221; jawab kerbau. &#8220;Sabarlah besok kalau badanku sudah gemuk.&#8221;</p>
<p>Selang beberapa bulan kemudian badan kerbau memang sudah nampak gemuk. Karena itulah, maka harimau ingin segera kerbau memenuhi janjinya. Tapi si kerbau tak mau menyerahkan hatinya. Dia ingin mempertahankannya. &#8220;Kenapa aku harus menyerahkan satu-satunya hatiku? Padahal hanya karena aku makan rumput di sini. Bukankah rumput ini juga milikku?&#8221; pikirnya.</p>
<p>Mendengar geram harimau, kerbau siap melawannya. Dan memang terjadilah pertarungan sengit antara dua binatang itu. Lama juga pertarungan yang nampak saling serang menyerang itu. Tapi akhirnya kerbau tak kuat menahan serangan harimau. Dia lari. Tapi harimau terus mengejarnya. </p>
<p>Di tengah perjalanan kerbau berjumpa dengan kuda.</p>
<p>&#8220;Ada apa kau lari terengah-engah?&#8221; tanya kuda terheran-heran.</p>
<p>&#8220;Aku dikejar harimau. Hendak membunuhku,&#8221; jawab kerbau tersengal-sengal.</p>
<p>&#8220;Jangan kuatir! Bersembunyilah di balik badanku!&#8221; suruh kuda.</p>
<p>Ketika harimau datang terjadilah perkelahian antara harimau dan kuda. Mereka saling dorong mendorong. Saling memagut. Saling ingin merobohkan. Tapi akhirnya kuda pun terpaksa mengakui keperkasaan si raja hutan.</p>
<p>Kuda dan kerbau terpaksa lari menemui banteng.</p>
<p>&#8220;Tolong kawan, kami akan dibunuh harimau. Dia mengejarku sekarang. Tolonglah &#8230;&#8221; kata kuda gelisah.</p>
<p>&#8220;Baiklah. Jika harimau ingin membunuhmu, biarlah dia membunuh si banteng perkasa ini lebih dulu,&#8221; ujar banteng bangga. &#8220;Mana dia sekarang?&#8221;</p>
<p>Belum lagi kuda dan kerbau menjawab, harimau telah melompat dan menerkam banteng. Dia menerjangnya sekuat tenaga. Terjadilah pertarungan sengit. Tapi akhirnya bantengpun terpaksa menyerah kalah. Mereka bertiga lari tunggang langgang. Sedangkan harimau terus mengejarnya, seolah belum puas bila belum memakan ketiga binatang itu. </p>
<p>Sampailah mereka di sebuah padang rumput dimana terdapat sebuah sumur tua. Mereka bertemu dengan kambing dan memberitahukan kalau mereka dalam keadaan bahaya, hendak dibunuh harimau. Dan tanpa banyak kata kambing segera bersiap membantunya. Dia mengoleskan buah kaktus hingga badannya merah.</p>
<p>Tiba-tiba harimau datang dengan geramnya.</p>
<p>&#8220;Kamu lihat kerbau dan kawan-kawannya?&#8221; tanya harimau garang.</p>
<p>&#8220;Ya, kenapa?&#8221; jawab kambing.</p>
<p>&#8220;Mereka hendak kubunuh.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mereka telah kubunuh semua, karena menggangguku. Kau pun akan kubunuh jika menggangguku. Lihatlah badanku sampai merah begini. Ketiga binatang itu telah kubinasakan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dimana mereka sekarang ?&#8221; kejar harimau belum puas.</p>
<p>&#8220;Kalau kau ingin melihat mereka, tengoklah sumur itu!&#8221;</p>
<p>Harimau heran. Lalu dia melongokkan kepalanya ke dalam sumur. Tapi belum lagi dia melihat isi sumur, banteng mendorongnya dari belakang hingga harimau terjerembab ke dalam sumur tua itu. Matilah harimau. ***</p>
<h4>Tags</h4>|<a href="http://www.cerita-anak.com/harimau-dan-kerbau.html" title="dongeng harimau yang malang">dongeng harimau yang malang</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/harimau-dan-kerbau.html" title="dongeng harimau">dongeng harimau</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/harimau-dan-kerbau.html" title="cerita kerbau dan kambing">cerita kerbau dan kambing</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/harimau-dan-kerbau.html" title="cerita anak harimau">cerita anak harimau</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/harimau-dan-kerbau.html" title="dongeng binatang harimau">dongeng binatang harimau</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/harimau-dan-kerbau.html" title="cerita harimau">cerita harimau</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/harimau-dan-kerbau.html" title="rumput kartun">rumput kartun</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/harimau-dan-kerbau.html" title="cerita tentang harimau">cerita tentang harimau</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/harimau-dan-kerbau.html" title="cerita sapi dan kerbau">cerita sapi dan kerbau</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/harimau-dan-kerbau.html" title="dongeng kerbau dan kambing">dongeng kerbau dan kambing</a>|]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.cerita-anak.com/harimau-dan-kerbau.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Kucing Selalu Ingin Menangkap Tikus ?</title>
		<link>http://www.cerita-anak.com/mengapa-kucing-selalu-ingin-menangkap-tikus.html</link>
		<comments>http://www.cerita-anak.com/mengapa-kucing-selalu-ingin-menangkap-tikus.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Feb 2010 03:39:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kakak Koko</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dongeng Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Dewa]]></category>
		<category><![CDATA[Kucing]]></category>
		<category><![CDATA[Tikus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.cerita-anak.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Konon berabad-abad yang silam, Dewa di Sorga mengumpulkan semua binatang yang ada di dunia ini. “Hai semua binatang! Akan kupilih sebanyak dua belas diantara kalian untuk mengatur dan melindungi dunia. Masing¬masing akan memperoleh kekuasaan selama satu tahun. Apabila diantara kalian menghendaki, datanglah ke istanaku pada hari keduabelas bulan pertama. Keduabelas diantara kalian semua yang datang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="/images/kartun/kartun-kucing-tikus.png" alt="Kartun Kucing Tikus" width="461" height="253" />Konon berabad-abad yang silam, Dewa di Sorga mengumpulkan semua binatang yang ada di dunia ini.</p>
<p>“Hai semua binatang! Akan kupilih sebanyak dua belas diantara kalian untuk mengatur dan melindungi dunia. Masing¬masing akan memperoleh kekuasaan selama satu tahun. Apabila diantara kalian menghendaki, datanglah ke istanaku pada hari keduabelas bulan pertama. Keduabelas diantara kalian semua yang datang pertama akan dipilih,” kata Dewa Surga.</p>
<p>Semua binatang menunggu dengan gembira datangnya hari keduabelas bulan pertama itu. Sayang sekali Kucing sangat pelupa dan tak ingat hari keberapa yang dikehendaki Dewa Sorga. Dia mondar-mandir kesana-kemari.</p>
<p>&#8220;Kapan kita pergi ke istana Dewa, kawan?&#8221; Tanya Kucing kepada Tikus.</p>
<p><span id="more-27"></span></p>
<p>&#8220;Hari ketigabelas bulan pertama,&#8221; jawab Tikus menipu Kucing.</p>
<p>Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Pada pagi yang masih buta itu Tikus melihat kalau Sapi akan berangkat ke istana.</p>
<p>&#8220;Kenapa sepagi ini kau sudah berangkat ?&#8221; Tanya Tikus.</p>
<p>&#8220;Sebab kakiku begitu lambat untuk menempuh perjalanan hingga istana,&#8221; jawab Sapi, &#8220;Aku harus pergi sekarang juga, aku takut terlambat sampai di istana. Dengan begitu aku tak akan terpilih.&#8221;</p>
<p>Ketika Sapi berangkat, Tikus melompat di kantung punggungnya. Sapi tidak tahu kalau Tikus terbawa olehnya. Dia berjalan pelan-pelan. Menuju istana dengan harapan akan tiba di tempat itu sebelum binatang lain datang.</p>
<p>Setiba di istana binatang lain memang belum ada yang kelihatan. Jadi sapi mengira kalau dirinya datang lebih dahulu. Namun dia tak mengira kalau Tikus mendahului melompat dan lari memasuki pintu gerbang istana.</p>
<p>&#8220;Horee&#8230; horee&#8230; aku yang datang pertama kali,&#8221; teriak Tikus dengan bersorak.</p>
<p>Sapi marah melihat kelakuan Tikus, marah lagi Kucing, sebab dia datang ke istana pada hari ketigabelas bulan pertama seperti apa yang dikatakatan Tikus.</p>
<p>&#8220;Kamu terlambat sehari, Kucing. Seharusnya kamu datang kemarin. Pemilihan telah diselenggarakan kemarin. Terpilih pertama adalah Tikus. Kemudian Sapi. Kemudian Harimau, Kelinci, Ular, Kuda, Kambing, Kera, Ayam, Anjing dan yang terakhir Beruang,&#8221; kata penjaga istana dengan berbalik menutup pintu gerbang istana.</p>
<p>Sejak itulah kucing benar-benar marah kepada Tikus yang telah menipunya. Hati Kucing terbakar amarah. Maka dia ingin segera mencari Tikus untuk memberinya pelajaran. ***</p>
<h4>Tags</h4>|<a href="http://www.cerita-anak.com/mengapa-kucing-selalu-ingin-menangkap-tikus.html" title="cerita kucing dan tikus">cerita kucing dan tikus</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/mengapa-kucing-selalu-ingin-menangkap-tikus.html" title="cerita tikus dan kucing">cerita tikus dan kucing</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/mengapa-kucing-selalu-ingin-menangkap-tikus.html" title="cerita rakyat kucing dan tikus">cerita rakyat kucing dan tikus</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/mengapa-kucing-selalu-ingin-menangkap-tikus.html" title="kucing kartun">kucing kartun</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/mengapa-kucing-selalu-ingin-menangkap-tikus.html" title="kisah kucing dan tikus">kisah kucing dan tikus</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/mengapa-kucing-selalu-ingin-menangkap-tikus.html" title="cerita kucing dan harimau">cerita kucing dan harimau</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/mengapa-kucing-selalu-ingin-menangkap-tikus.html" title="kartun kucing">kartun kucing</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/mengapa-kucing-selalu-ingin-menangkap-tikus.html" title="cerita kucing">cerita kucing</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/mengapa-kucing-selalu-ingin-menangkap-tikus.html" title="CERITA TIKUS">CERITA TIKUS</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/mengapa-kucing-selalu-ingin-menangkap-tikus.html" title="kucing dan tikus">kucing dan tikus</a>|]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.cerita-anak.com/mengapa-kucing-selalu-ingin-menangkap-tikus.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kera Yang Licik dan Kejam</title>
		<link>http://www.cerita-anak.com/kera-yang-licik-dan-kejam.html</link>
		<comments>http://www.cerita-anak.com/kera-yang-licik-dan-kejam.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Feb 2010 10:00:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kakak Koko</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dongeng Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Kera]]></category>
		<category><![CDATA[Ketam]]></category>
		<category><![CDATA[Lebah]]></category>
		<category><![CDATA[Siput]]></category>
		<category><![CDATA[Ular]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.cerita-anak.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Kera sangat senang hidup bersama ketam, karena ketam sangat menurut kepadanya. Ketam mudah sekali ditipunya. Selain itu ketam tidak berani rnelawannya. Pada suatu ketika mereka berdua bersama-sama mencari makan. Kera mendapatkan biji buah jambu. Sedangkan ketam mendapatkan sepotong kue, sisa makanan seorang pemburu. &#8220;Sahahatku ketam, kue itu hanya sekali saja kau dapat. Setelah kau makan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kera sangat senang hidup bersama ketam, karena ketam sangat menurut kepadanya. Ketam mudah sekali ditipunya. Selain itu ketam tidak berani rnelawannya.</p>
<p>Pada suatu ketika mereka berdua bersama-sama mencari makan. Kera mendapatkan biji buah jambu. Sedangkan ketam mendapatkan sepotong kue, sisa makanan seorang pemburu.</p>
<p>&#8220;Sahahatku ketam, kue itu hanya sekali saja kau dapat. Setelah kau makan, maka habislah kuemu,&#8221; kata kera sambil melirikkan matanya kearah kue yang dipegang ketam.</p>
<p>&#8220;Tapi biji jambu ini bisa ditanam dan akan berbuah hanyak. Habis kita petik tidak lama kemudian akan berbuah lagi. Begitulah seterusnya. Bagaimana kalau kita bertukaran saja, sahabat ?&#8221;</p>
<p><span id="more-20"></span><br />
Karena bujukan itu, ketam merasa tergiur yang akhirnya kuenya ditukarkannya dengan biji jambu milik kera.</p>
<p>&#8220;Lalu biji ini ditanam di rumahku ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, ya, &#8220;jawab kera sambil mengunyah kue itu.</p>
<p>Betullah, tidak lama kemudian biji jambu itu tumbuh dengan suburnya. Ketam rajin sekali menyirami pohon jambunya. Dan pada saatnya pohon jambu itu berbuah dengan lebatnya. </p>
<p>Melihat buah yang lebat itu kera menjadi iri. Karena itulah maka ketam dibunuhnya. Dia dibanting pada sebuah batu yang sangat keras sehingga tubuhnya berkeping-keping menjadi ratusan ketam kecil-kecil.</p>
<p>Bukan main senang hati kera. Dia bisa memetik buah jambu itu sepuas dan sebanyak mungkin.</p>
<p>&#8220;Abang kera, berilah kami buah jambu itu,&#8221; kata seekor ketam.</p>
<p>&#8220;Secuilpun kalian tak akan kuberi,&#8221; kata kera sambil memakan buah jambu itu dengan rakusnya.</p>
<p>Ketam-ketam itu sakit hatinya. Kemudian merekabermusyawarah bersama. Diputuskannyalah untuk menghukum kera.</p>
<p>Berbarislah mereka menuju ke rumah kera. Lebah melihat barisan mereka, dan menanyakan akan kemanakah mereka itu. Mereka menjawab, &#8220;Kami akan menghukum kera,&#8221; jawab mereka. Kemudian mereka memberi sepotong kue kepada lebah. Lebahpun ikut mereka.</p>
<p>Tidak lama kemudian siput juga melihat barisan ketam itu dan menanyakan akan kemanakah mereka itu. Mereka menjawab, &#8220;Kami akan menghukum kera,&#8221; jawab mereka. Kemudian sepotong roti diberikan kepada siput. Dan siputpun ikut dalam barisan itu.</p>
<p>Ketika akan sampai di rumah kera, mereka bertemu dengan ular. Ular menanyakan kepada mereka mau kemanakah mereka. Ketam-ketam itu menjawab, &#8220;Kami akan menghukum kera.&#8221; Ularpun menerima sepotong kue dari mereka. Ularpun berbaur dengan mereka itu.</p>
<p>Ketika sampai di rumah kera, mereka tidak menjumpainya. Maka bersembunyilah lebah dibalik dipan kera. Siput mengambil tempat persembunyiannya di balik tungku yang berapi. Sedang ular bersembunyi dibawah ember. Semua ketam bersembunyi ditempat yang terlindung dari pandangan kera, kalau kera nanti pulang.</p>
<p>Kera masuk rumahnya. Karena kedinginan. Kera menuju tungku perapian. Nah, disana siput mendorong tungku berapi itu. Sehingga kera terbakar. Larilah kera menuju ember berisi air. Tapi di sana ular telah menunggunya. Kaki kera terpelilit oleh tubuh ular. Disusul dengan kedatangan lebah yang menyengat mata kera. Kera berteriak keras kesakitan. Kemudian Ketam-ketam keluar dari persembunyiannya untuk memberi pelajaran kepada kera yang telah berbuat kejam kepada induk mereka. ***</p>
<h4>Tags</h4>|<a href="http://www.cerita-anak.com/kera-yang-licik-dan-kejam.html" title="ceritaanak com">ceritaanak com</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/kera-yang-licik-dan-kejam.html" title="cerita anak tentang lebah">cerita anak tentang lebah</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/kera-yang-licik-dan-kejam.html" title="kera yang licik">kera yang licik</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/kera-yang-licik-dan-kejam.html" title="cerita dongeng lebah">cerita dongeng lebah</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/kera-yang-licik-dan-kejam.html" title="cerita licik">cerita licik</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/kera-yang-licik-dan-kejam.html" title="dongeng lebah">dongeng lebah</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/kera-yang-licik-dan-kejam.html" title="dongeng siput dan ketam">dongeng siput dan ketam</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/kera-yang-licik-dan-kejam.html" title="DONGENG TENTANG LEBAH">DONGENG TENTANG LEBAH</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/kera-yang-licik-dan-kejam.html" title="dongeng anak kera">dongeng anak kera</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/kera-yang-licik-dan-kejam.html" title="cerita dongeng siput">cerita dongeng siput</a>|]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.cerita-anak.com/kera-yang-licik-dan-kejam.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Putri Duyung</title>
		<link>http://www.cerita-anak.com/kisah-putri-duyung.html</link>
		<comments>http://www.cerita-anak.com/kisah-putri-duyung.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Feb 2010 09:36:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kakak Koko</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dongeng Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Putri Duyung]]></category>
		<category><![CDATA[Raja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.cerita-anak.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Tersebutlah seorang raja laut yang ditinggalkan oleh permaisurinya. Maka hidupnya hanya ditemani oleh enam orang putrinya dengan diasuh oleh seorang neneknya. Neneknya membuat perraturan, bahwa hanya jika sudah berusia lima belas tahun cucunya boleh muncul ke permukaan laut melihat dunia manusia. &#8220;Kenapa harus begitu, Nek?&#8221; tanya seorang cucunya. &#8220;Begitulah, agar kalian nampak cantik dilihat oleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tersebutlah seorang raja laut yang ditinggalkan oleh permaisurinya. Maka hidupnya hanya ditemani oleh enam orang putrinya dengan diasuh oleh seorang neneknya.</p>
<p>Neneknya membuat perraturan, bahwa hanya jika sudah berusia lima belas tahun cucunya boleh muncul ke permukaan laut melihat dunia manusia.</p>
<p>&#8220;Kenapa harus begitu, Nek?&#8221; tanya seorang cucunya.</p>
<p>&#8220;Begitulah, agar kalian nampak cantik dilihat oleh manusia di daratan,&#8221; jawab neneknya.</p>
<p><span id="more-15"></span><br />
Waktu pun berlalu. Satu perrsatu putri-putri itu tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Namun diantara putri-putri cantik itu yang paling cantik adalah Puteri Duyung bungsu.</p>
<p>Ombak akan tenang bilamana Puteri Duyung muncul ke permukaan laut.</p>
<p>Pada suatu hari Putri Duyung bungsu muncul di permukaan laut. Dilihatnya sebuah perahu semakin mendekatinya. &#8220;Alangkah tampannya penumpang perahu itu. O, yang itu lebih tampan lagi,&#8221; katanya kepada dirinya sendiri setelah dekat dengan perahu. Dia memang heran, karena penumpang yang dianggapnya paling tampan adalah Putra seorang raja.</p>
<p>Tiba-tiba cuaca berubah menjadi buruk. Angin taufan menyambar-nyambar perahu. Perahu jadi oleng. Dan akhirnya perahu itu tenggelam. Melihat kecelakaan tersebut Putri Duyung sangat kasihan kepada Putra Raja. Ditolongnya pemuda itu. Dalam keadaan pingsan Putra Raja diletakkan di tepi pantai, sedang dia sendiri kembali pulang kedasar laut.</p>
<p>Tapi sulit bagi Putri Duyung untuk melupakan wajah yang tampan itu. Maka dia menceritakannya kepada kakak-kakaknya apa yang telah dialaminya. Kakak-kakaknya tertawa memperolok.</p>
<p>&#8220;Pantas saja kau jadi pemurung kini,&#8221; kata salah seorang kakaknya.</p>
<p>Karena amat rindu kepada Putra Raja, Putri Duyung ingin pergi ke permukaan laut. Ingin menjumpai Putra Raja. Sebenarnya neneknya melarang agar jangan sekali-kali menjumpai Putra Raja, karena ekor Putri Duyung sangat buruk dan tak disukai oleh manusia. Namun Putri Duyung tetap berkemauan keras. Dia pergi kepada Pesihir.</p>
<p>&#8220;Aku bisa menolongmu, kau berkaki cantik asal suaramu boleh kuminta,&#8221; kata Pesihir.</p>
<p>&#8220;Baiklah,&#8221; jawab Putri Du¬yung.</p>
<p>&#8220;Minumlah obat ini jika kau sudah sampai di permukaan laut,&#8221;Putri Duyung mengangguk.</p>
<p>Sesampainya di permukaan laut, obat dari Pesihir itu diminumnya. Seketika itu juga dia pingsan. Tapi setelah siuman Putri Duyung melihat disampingnya telah duduk Putra Raja dengan tersenyum. Alangkah bahagia hati Putri Duyung. Tapi sayang ketika Putra Raja yang tampan menanyakannya, Putri Duyung tak bisa bersuara. Dia ingat bahwa suaranya telah diberikan kepada Pesihir. Dengan begitu Putra Raja seolah hanya berhadapan dengan seorang gadis cantik tetapi bisu. Kecewalah hati Putra Raja. Menangislah Putri Duyung ketika Putra Raja meninggalkannya. Dia pun jadi putus asa. Kemudian dia mencebur ke laut pulang ke istana ayahnya. Dia sangat malu kepada manusia. Itulah maka Putri Duyung selalu mengelak dari pandangan manusia. ***</p>
<h4>Tags</h4>|<a href="http://www.cerita-anak.com/kisah-putri-duyung.html" title="cerita anak">cerita anak</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/kisah-putri-duyung.html" title="cerita putri duyung">cerita putri duyung</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/kisah-putri-duyung.html" title="dongeng putri duyung">dongeng putri duyung</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/kisah-putri-duyung.html" title="legenda putri duyung">legenda putri duyung</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/kisah-putri-duyung.html" title="cerita dongeng putri duyung">cerita dongeng putri duyung</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/kisah-putri-duyung.html" title="kisah putri duyung">kisah putri duyung</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/kisah-putri-duyung.html" title="cerita dongeng putri">cerita dongeng putri</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/kisah-putri-duyung.html" title="dongeng putri malu">dongeng putri malu</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/kisah-putri-duyung.html" title="cerpen putri duyung">cerpen putri duyung</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/kisah-putri-duyung.html" title="cerita rakyat putri duyung">cerita rakyat putri duyung</a>|]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.cerita-anak.com/kisah-putri-duyung.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>58</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Calon Ketua Kelas</title>
		<link>http://www.cerita-anak.com/calon-ketua-kelas.html</link>
		<comments>http://www.cerita-anak.com/calon-ketua-kelas.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Feb 2010 04:27:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kakak Koko</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Iping]]></category>
		<category><![CDATA[Ketua Kelas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.cerita-anak.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Udara pagi sejuk sekali. Sinar mentari menyinari alam dengan ceria. Seceria anak-anak yang akan memasuki kelas baru, kelas enam,kecuali Iping karena dia sendirilah yang tak naik kelas. Setiba di sekolah mereka masih menunggu dua puluh menit lagi untuk masuk kelas. Kini mereka masih asyik berbincang-bincang, berbicara tentang pengalaman mereka selama liburan. Akhirnya tak terasa perbincangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Udara pagi sejuk sekali. Sinar mentari menyinari alam dengan ceria. Seceria anak-anak yang akan memasuki kelas baru, kelas enam,kecuali Iping karena dia sendirilah yang tak naik kelas.</p>
<p>Setiba di sekolah mereka masih menunggu dua puluh menit lagi untuk masuk kelas. Kini mereka masih asyik berbincang-bincang, berbicara tentang pengalaman mereka selama liburan. Akhirnya tak terasa perbincangan mereka sampai pula pada pemilihan ketua kelas.</p>
<p>“Sebaiknya hari ini kita mengadakan pemilihan ketua kelas,” Annas mengajukan usulnya di tengah kerumunan teman-temannya.</p>
<p>“Aku setuju,” dukung Yunan.</p>
<p>“Apa alasanmu, Yun?” kejar Budi.</p>
<p><span id="more-9"></span><br />
“Yaah, kalau hari ini kita sudah mempunyai ketua kelas, semua mudah diatur, bukan?” jawab Yunan. “Mulai besok kita juga sudah bisa belajar.”</p>
<p>“Belum tentu. Kita kan belum punya pedoman mata pelajaran,” sanggah Totok.</p>
<p>“Kalau aku boleh usul, pemilihan ketua kelas diselenggarakan setelah kita lengkap hadir,” kata Budi.</p>
<p>“Kenapa harus begitu?” kejar Irwan.</p>
<p>“Semua jadi puas. Lagipula kita siap memilih calon-calonnya lebih dulu,” jawab Budi.</p>
<p>Bel berbunyi. Menghentikan perdebatan mereka. Untuk sementara, anak-anak boleh memilih tempat duduk sendiri sebelum wali kelas melotrenya nanti.</p>
<p>Sesaat kemudian Pak Sukri, wali kelas mereka yang baru, memasuki ruang kelas dengan wajah berseri.</p>
<p>“Selamat pagi anak-anak,” Pak Sukri memberi salam.</p>
<p>“Pagi…,” jawab semua anak.</p>
<p>“Anak-anak, kalian mulai hari ini sudah duduk di kelas enam. Tentu saja kalian harus mempunyai tekad bulat untuk merintis diri yang lebih baik lagi daripada yang dulu, agar nanti dalam UJIAN kalian berhasil dengan memuaskan. Bukan begitu anak-anak?!”</p>
<p>“Ya, Paaak….,” jawab anak-anak berbarengan.</p>
<p>“Ada berapa jumlah kalian semua?” tanya Pak Sukri.</p>
<p>“Tiga puluh enam, Pak….”</p>
<p>“Ah masa iya, tiga puluh tujuh, bukan?”</p>
<p>“Iping tak naik, Paak….”</p>
<p>“Ya, ya,” Pak Sukri mengangguk-angguk. “Tapi ada murid baru.”</p>
<p>“Siapa, ya….” Seisi kelas bertanya-tanya.</p>
<p>“Siapa dia, Pak?” tanya Annas tertegun.</p>
<p>“Namanya Slamet.” Jawab Pak Sukri.</p>
<p>“Slamet?” bisik disana-sini.</p>
<p>“Siapa sih dia?”</p>
<p>“Kalian tahu besok. Pasti.”</p>
<p>“Siapa tahu dia cakap menjadi ketua kelas nanti,” kata Budi.</p>
<p>“Kita calonkan saja,” ujar Totok.</p>
<p>Esoknya, kelas menjadi gaduh setelah murid baru itu hadir. Bukan karena mereka kagum kepadanya. Bukan! Tapi karena Slamet si murid baru itu ternyata Suparlan yang pernah sekolah di sekolah itu pula. Dua tahun yang lalu dia kakak kelas anak-anak kelas enam sekarang.</p>
<p>Karena tak naik kelas disebabkan sakit tipes yang hampir merenggut jiwanya, Parlan pindah sekolah. Sebentar kemudian ibunya yang gelandangan itu meninggalkannya untuk selamanya. Tinggallah dia seorang diri. Tiba-tiba Parlan bertemu dengan Pak Cipto, Kepala Sekolah mereka, dipungutlah Parlan. Diasuhnya dengan baik oleh Pak Cipto, Parlan diganti namanya dengan Slamet yang artinya “selamat”.</p>
<p>“Kalau cuma dia saja, oho, sebenarnya tak usah ditunggu dalam menyelenggarakan pemilihan ketua kelas,” ujar Annas mengejeknya.</p>
<p>“Ingusan lagi. Anak gelandangan! Huh! Mau kita pilih jadi ketua kelas? Tolol jika kita memilihnya,” ejek Yunan pula. Tentu saja hati Slamet bagai diiris sembilu rasanya mendengar ejekan itu.</p>
<p>“Jangan begitu dong….,” cegah Budi. “Lain dulu lain sekarang.”</p>
<p>“Nyatanya dia anak gelandangan,” bisik Annas kepada Yunan.</p>
<p>Yang lain hanya berbisik-bisik disana-sini. Mereka pun membicarakan Slamet pula. Ada yang benci, ada yang kasihan. Tapi secara jujur mereka mengakui bahwa Slamet sudah banyak berubah setelah diasuh oleh Pak Cipto. Kini dia bersih dan rapi. Bersepatu pula. Padahal dulu sewaktu di kelas empat dia memang kotor dan ceroboh. Itulah maka sebagian besar dari mereka ingin mencalonkan Slamet sebagai ketua kelas hari ini. ***</p>
<h4>Tags</h4>|<a href="http://www.cerita-anak.com/calon-ketua-kelas.html" title="cerita tentang pemilihan ketua kelas">cerita tentang pemilihan ketua kelas</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/calon-ketua-kelas.html" title="pemilihan ketua kelas">pemilihan ketua kelas</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/calon-ketua-kelas.html" title="CERITA ANAK TENTANG NAIK KELAS">CERITA ANAK TENTANG NAIK KELAS</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/calon-ketua-kelas.html" title="cerita pemilihan ketua">cerita pemilihan ketua</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/calon-ketua-kelas.html" title="cerita untuk anak-anak memberi salam">cerita untuk anak-anak memberi salam</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/calon-ketua-kelas.html" title="ketua kelas">ketua kelas</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/calon-ketua-kelas.html" title="ketua kelas di sekolah">ketua kelas di sekolah</a>||<a href="http://www.cerita-anak.com/calon-ketua-kelas.html" title="pemilihan ketua kelas di sekolah">pemilihan ketua kelas di sekolah</a>|]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.cerita-anak.com/calon-ketua-kelas.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

